Tradisi Sadakah di Masyarakat Nagari Abai Siat Kabupaten Dhamasraya
Penulis : Tiara Aprilia Hery, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Kematian merupakan sebuah peristiwa alamiah yang tak terelekan setiap di individu dan memiliki cara tersendiri untuk menghadapi kehilangan dan melanjutkan kehidupan.Sebagai mahluk Allah Yang Maha Esa ,semua ciptaanya akan kembali kepadanya ,termasuk kematian .Kematian akan menimpa setiap orang tanpa melihat status, peran dan umur . Manusia tidak mengetahui kapan dan dimana tempat kematian itu, karena kematian termasuk persoalan gaib .tak ada yang megetahuinya kecuali diri sendiri ,dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia yang mengetahuinya (pula). dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak suatu yang basah atau yang kering .
Manusia dilahirkan dan dihadirkan di alam semesta ini bukan merupakan kehendaknya sendiri, namun karena kehendak tuhan yang esa. manusia tidak pernah meminta sekaligus tak bisa memilih kapan dan dimanaa ia dilahirkan semuanya tanpa ada kendali dari manusia . Manusia tak meiliki kemampuan untuk menentukan kelahiran sekaligus kematinya. Dalam bahasa Heidegger, manusia terlempar dalam dunia ini, dan dengan begitu manusia dihadapkan dengan berbagai kecemasan Sukron Abdilah (2016:122).
Tradisi sadakah sebagai kearifan lokal yang mencerminkan cara masyarakat setempat dalam menyikapi kematian dan menjaga kelestarian nilai-nilai budaya.tradisi mambilang hari ini bukan sekedar ritual untuk menyalurkan doa untuk yang sudah meninggal tetapi ini juga merupakan sebuah sosio religius yang kompleks dalam keseluruhan proses mendoa kematian.fungsi sadakah ini adalah untuk mengirimkan doa serta sedekah untuk yang telah meninggal. Hayatul dalam Mursal Esten (1993:11) mengatakan bahwa tradisi mengatakan kebiasaan turun temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai nilai budaya masyarakat yang bersangkutan.
Sebagai masyarakat Minangkabau setiap tradisi di berbagai daerah berbeda beda, dan beberapa tradisi memilki arti dan makna tersendiri dan tata cara yang sudah terunsur dan beraturan . Sebagaimana yang kita ketahui Minangkabau sangat menjujung tinggi adat istiadat serta tradisinya . sama dengan hal nya tradisi mambilang hari yang menjadi salah satu tradisi yang sudah turun temurun. Salah satu yang di lakukan oleh masyarakat Nagari Abai Siat Kabupaten Dhamasraya ,di kenal dengan tradisi sadakah . Sedekah yang kita ketahui selama ini ialah sedekah ialah memberi secara sukarela (tanpa kepentingan apapun) harta atau bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Sedakah bukanlah suatu kewajiban,tetapi adalah perbuatan baik dalam hati dan iklas dalam mengerjakanya. Namun berbeda dengan makna sedekah dalam upacara kematian pada masyarakat nagari abai siat kabupaten dhamasraya. Yang mana sadakah dalam upacara kematian pada masyarakat nagari abai siat kabupaten dhamasraya, dan masih di laksanakan pada saat sekarang.
Pada dasarnya tradisi sadakah merupakan tradisi yang masih berlaku pada masyarakat Nagari Abai Siat. Berdasarkan kepercayaan yang di anut oleh masyarakat di daerah ini, maka tradisi sadakah pada upacara kemataian ini tidak bertentangan dengan nilai agama islam. Sadakah ini adalah suatu proses pemberian yang di lakukan oleh keluarga inti memberi ke orang yang patut menerimanya dan orang yang benar benar mebutuhkan serta taat dalam beribadah contohnya urang siak , adalah adalah orang yang di anggap ahli dalam agama islam, bisa juga dikatakan marbot mesjid, orang yang paham agama islam dipangil dengan urang siak di Minangkabau.
Proses mendoa dilakukan dari mulai mendoa 3 hari, mendoa dilakukan di rumah mendiang setelah itu dilanjuti dengan mendoa 7 harian ,40 harian hingga 1000 harian bagi yang ingin melaksanakan. dan dilaksanakan tradisi sadakah ini pas 7 harian. pelaksanakan tradisi ini sebaiknya dilakukan setelah sholat subuh di hitung dari hari ke 7 meninggalnya seseorang dan dilakukan sedekah ini secara diam diam ,hanya di ketahui oleh keluarga inti dan orang yang menerima sedekah. Yaitu orang siak. yang di berikan saat sedekah ini berupa pakaian, mulai dari baju ,celana ,serta sarung bagi laki laki yang menerimanya serta topi untuk beribadah hingga ada kasur ,terkadang juga berupa uang ,terserah yang ingin bersedekah dari keluarga yang ingin memberi.Uniknya basadakah ini hanya ditemukan di nagari abai siat kabupaten dhamasraya . karena biasanya mendoa di daerah lain hanya 3 harian, 7 harian dan 14 harian, 40 harian, 100 harian hingga 1000 harian. tapi tidak dengan tradisi sadakahnya apalagi sadakah ini dilakukan pas waktu subuh dan dilakukan secara diam-diam. Selama yang kita ketahui sebuah tradisi biasanya di perlihatkan kepada masyarakat ,terang terangan tanpa ditutupi. Namun ini salah satu persyaratan proses tradisi ini bisa dilakukan, ini sebuah tradisi yang tidak bertentangan dengan agama , malahan ini yang di setujuioleh agama karna bersedekah untuk orang yang sudah meninggal.
Namun jika pemberi ingin memeberi ke pada urang siak lebih dari pemberian yang biaSa dilakukan oleh masyarakat lain juga boleh , karna pemberian ini dilakukan secara diam-diam atau disebut dengan keluarga inti dan urang siak yang menerima sedekah ini yang mengetahui pemberian sedekah ini.
Pemberian dilakukan secara diam diam di karenakan ,takutnya nanti menjadi buah bibir oleh masyarakat dan membuat salah faham ,dan menjadi pembandingan bagi orang yang kaya dan miskin ,karna sadakah masih di lakukan saampai saat ini . dan ditengah dinamika zaman yang terus berkembang tradisi masih dilestarikan dibudiyakan hingga saat ini oleh masyarakat nagari abai siat kabupaten dhamasraya.