Alih Aksara Kitab Rancang “Naskah Klasik Tasawuf Kawali-Ciamis
Oleh : Rahmat Fadlan Revano Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Naskah merupakan salah satu warisan budaya yang sangat menarik, karena hampir seluruh segi kehidupan terekam di dalam naskah. Naskah lama sanggup memberikan gambaran tentang masa lampau melalui pikiran-pikiran yang tertulis di dalamnya. Namun, ada sesuatu yang disayangkan yakni bahan-bahan yang dipergunakan untuk menulis naskah tidak dapat bertahan lama, mudah lapuk termakan usia, dan kondisi yang kurang menguntungkan. Dengan demikian tidak menutup kemungkinan naskah-naskah itu akan mengalami kerusakan atau bisa juga hilang sehingga tidak dapat terungkap isinya. Oleh karena itu, naskah-naskah tersebut perlu segera diselamatkan dengan cara pelestarian, penelitian, pendayagunaan, dan penyebarluasan agar masyarakat luas mengerti isi yang terkandung dalam naskah.
Pemeliharaan dan penyelamatan hasil budaya masa lampau berupa naskah banyak mengalami kendala, antara lain masyarakat ataupun peneliti kurang perhatian dan kurang tertarik pada sastra lama. Hal tersebut terjadi karena adanya kesukaran dalam pembacaan aksara atau dalam memahami naskah-naskah tersebut yang menggunakan tulisan kuno, salah satunya aksara Arab Pegon.
Dengan demikian,,tujuan dari transliterasi naskah Kitab Rancang ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk memberikan gambaran kepada para pembaca tentang teks awal (yang ditransliterasikan)
b. agar pembaca seolah-olah menghadapi teks aslinya walaupun dalam teks yang berbeda hurufnya.
c. Mempertahankan keaslian teks.
Ringkasan isi cerita
Bagian awal/pembuka diawali dengan pemaparan riwayat penulisan naskah, riwayat penyalin, sanduk-sanduk, adab membaca naskah, bubuka cerita dan dialog sahabat näbi yang bernama Jabir dengan Rasulullah SAW. Selanjutnya diceritakan bagaimana penciptaan makhluk (nur Muhammad), penciptaan ruh, penciptaan Arsy, perjalanan ruh dari alam Lahut sampai ke alam Mulki.
Dilanjutkan dengan bagian yang memaparkan penentuan kodrat manusia dan dialog antara Rasulullah dengan Allah SWT. (dalam naskah disebut Gusti Yang Agung). Bagian selanjutnya menceritakan penciptaan nabi Adam yang hendak dijadikan khalifah di bumi. Iblis diusir dari surga dan dilaknat oleh Allah SWT., kemudian Iblis bersumpah akan memusuhi Adam dengan keturunannya, Allah SWT. pun bersumpah akan melindungi anak cucu adam yang beriman kepada-Nya.
Nabi Adam tinggal di surga dengan segala kenikmatannya, lalu diceritakanlah penciptaan Babu Hawa. Bagian selanjutnya menceritakan perkenalan Adam dan Hawa, dialog antara Adam dan para malaikat tentang mas kawin untuk Babu Hawa, pernikahan Adam Hawa di surga, kemudian Adam Hawa hidup di surga dengan berbagai kenikmatan. Pada bagian selanjutnya diceritakan bahwa Adam Hawa tergoda oleh tipu daya iblis, dan surgapun menjadi gelap gulita. Adam Hawa diusir dari surga lalu berpisah selama seratus tahun. Setelah seratus tahun lamanya, Adam diturunkan ke dunia. Dalam naskah disebutkan tempat di mana Adamditurunkan yaitu di Gunung Surandil, sedangkan Hawa diturunkan di Jidah. Selama berpisah, Adam Hawa mengalami kesengsaraan yang sangat pedih. Setelah seratus tahun lamanya berpisah kemudian mereka dipertemukan di sebuah tempat yang dinamakan Muzdalifah.
Pada bagian berikutnya diceritakan mengenai takdir mukmin dan kafir. Diceritakan pula bahwa Adam Hawa mempuyai keturunan. Adam Hawa mempunyai empat puluh putra dan putri yang melahirkan seribu bangsa. Berpindahnya nur kenabian dari nabi Adam ke Babu Hawa, kemudian Hawa melahirkan nabi Esis yang menurunkan kenabian sampai kepada Rasulullah. Cerita dilanjutkan dengan kisah seorang tokoh yang bernama Pandita Sawang yang tinggal di atas angin. Pandita Sawang menceritakan awal mula penciptaan manusia, penentuan takdir manusia, perjalanan ruh, pengaruh kehamilan terhadap psikologi ibu, penjelasan sifat dua puluh, dan tanda-tanda kelahiran.
Nasihat-nasihat tersebut disampaikan kepada anak Pandita Sawang yang bernama Ujang Mar'at. Pandita Sawang juga menyampaikan nasihat tentang kematian, proses kematian, perjalanan kubur, dan perjalanan akhirat. Bagian selanjutnya menceritakan tentang dialog antara Pandita Sawang dengan seorang tokoh yang bernama Waruga Alam. Isi dialognya adalah membahas tentang siksa kubur dan kehidupan akhirat, serta penjelasan alam kabir dan sagir (bumi dan langit). Bagian akhir cerita membahas tentang falsafah hukum Islam, falsafah sholat dan sembahyang.