Pacu Jawi di Pariangan Akan Diadakan Pada Tanggal 3, 10, 17, 24 Juni 2023
Oleh: Indah Aprilika Tanjung, Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas
Pacu jawi ialah lomba tradisional yang ada di Sumatera Barat. Pada acara ini para sapi berlari di lintasan yang sudah di buat. Lintasan itu berada di sawah yang berlumpur dengan panjang kira-kira 60-250 meter dan para penjokinya berdiri di belakang dengan memegang kedua sapi. Pacu jawi merupakan tradisi yang telah ada semenjak ratusan tahun silam. Awalnya pacu jawi ini dilaksanakan di sebuah nagari yaitu nagari tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Pacu jawi ini upaya bagi para petani untuk menemukan cara membajak sawah yang baik dan benar, karena pada saat itu belum ada mesin untuk membajak sawah. Orang yang menemukan pacu jawi ialah datuak (dt) Tantejo Gurhano, ia merupakan orang tetua yang arif dan bijaksana. Ia melakukan cara tersebut agar sawahnya menjadi subur dan mudah ditanami. Kegiatan ini dilaksanakan 4 kali dalam seminggu setiap hari sabtu. Secara bergilir di empat kecamatan diantaranya, Sungai Tarab, Pariangan, Lima kaum dan Kecamatan Rambatan. Kegiatan pacu jawi dilaksanakan oleh Porwi (persatuan olahraga pacu jawi).
Pacu jawi ialah salah satu tradisi yang ada di Minangkabau yang harus kita lestarikan agar tidak punah. Pacu jawi juga merupakan sarana bagi masyarakat untuk teta melestarikan tradisi dan budaya yang sudah ada. Pacu jawi berfungsi memperkenalkan tradisi yang ada kepada masyarakat terutama kaum generasi muda. Karena hanya generasi mudalah yang dapat menjaga tradisi ini. Melalui pacu jawi maka generasi muda dapat mengenal dan mempelajari tradisi khususnya tentang tradisi pacu jawi. Fungsi tradisi Pacu jawi yaitu, pertama sebagai sarana untuk melestarikan dan memperkenalkan tradisi kepada kaum muda yang akan melanjutkannya, kedua meningkatkan silaturahmi antar daerah maupun antar provinsi. Karena pada saat pacu jawi orang banyak menonton acara tersebut. Ketiga sebagai hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Minangkabau. Para penonton akan bersorak-sorak gembira saat jawi mulai berlomba karena tontonan yang sangat menghibur dan mereka melupakan penat aktifitas kerjanya dan menikmati kegembiraan dari pacu jawi tersebut. Keempat meningkatkan perekonomian masyarakat, karena pada saat acara berlangsung banyak dari masyarakat memanfaatkannya untuk berdagang
Awalnya pacu jawi hanya sebagai hiburan bagi para petani sehabis panen, karena mereka merasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan sebagai tempat menjalin hubungan silaturahmi antar masyarakat yang belum pernah dia kenal satu sama lain. Pada saat sekarang Pacu Jawi telah dijadikan objek wisata di Kabupaten Tanah Datar. Pemerintahnya memprmosikan acara tersebut. Mereka memperkenalkan dan memfasilitasi agar pacu jawi menjadi objek wisata dan kegiatan pac jawi bisa berjalan dengan lancer dan dengan tertib.
Nilai yang terkandung pada upacara adat pelaksanaan tradisi pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar yaitu, pertama filosofi pacu jawi berasal dari falsafah hidup orang Minangkabau yang terkenal yaitu ‘Alam takambang jadi guru’ yang artinya bahwa alam yang ada di semesta ini dapat di jadikannya panutan atau guru, jadi budaya di Minangkabau menggambarkan bahwa ada sifat jawi yang dapat dijadikan contoh sebagai pengalamannya. Kedua tradisi Pacu jawi juga dapat memenuhi syarat sebagai sebuah kebudayaaan yang menjelaskan penuh komponen kebudayaan secara wujud diantaranya, gagasan, filosofi, nilai-nilai dan norma adat yang bertujuan mengatur suatu tradisi yang dilaksanakan secara berulang-ulang yang merupakan wujud kebudayaan. Pacu jawi meupakan permainan anak nagari yang telah di wariskan oleh nenek moyang orang Minangkabau hingga sampai sekarang tradisi pacu jawi ini masih di laksanakan setiap tahunnya dan menjadi agenda destinasi wisata.
Pacu jawi telah dilaksanakan sejak tahun lalu, sebelum kemerdekaan Indonesia dan mulanya hanyalah perayaan sebagai hiburan panen untuk warga desa. Dahulunya pacu jawi hanya diadakan dua kali dalam setahun, tetapi siklus panen nya sekarang semakin pendek dan hanya memungkinkan acara ini dilaksanakan dengan lebih sering lagi setiap tahun 4 kali di berbeda kecamatan. Para penonton bukan hanya yang berada di daerah tersebut saja melainkan turis mancanegara juga bergabung untuk menontonnya, mereka menyaksikan acara ini dari tanah kering di pinggir sawah. Acara pacu jawi diiringi dengan sebuah pesta yang orang Minang menyebutnya dengan alek pacu jawi (pesta pacu sapi) pesta ini sering melibatkan sapi-sapi yang didandani suntiang (perhiasan kepala wanita khas di Minangkabau). Pacu jawi ini permainan yang bersifat menghibur yang diadakan selepas pane padi berupa membalapkan sapi di sawah yang berair dan berlumpur. Sebelum acara pacu jawi diadakan masyarakat di nagari tuan rumah akan melaksanakan gotong royong membersihkan lokasi dan melancarkan saluran air. Kegiatan ini dilaksanakan empat kali dalam setahun setiap hari sabtu.
Jadi tradisi pacu jawi dilaksanakan berguna untuk memperkenalkan adat budaya yang ada di Minangkabau kemancanegara sebagai ajang silaturahmi antar sesame masyarakat baik yang berada di Minangkabau maupun yang berada di luar dari Minangkabau. Tak lupa pula ketika orang menonton pacu jawi dia bakal mengabadikan moment dengan cara memfoto kegiatan tersebut dengan kameranya yang canggih yang mereka miliki. Jawi-jawi yang akan diperlombakan mempunyai stamina yang kuat dan sudah terlatih. Para penjoki akan memilih jawi yang lebih cepat dan kuat agar saat perlombaan dia menang. Jawi tersebut milik masyarakat setempat dan kadang ada juga jawi yang berasal dari kampung ain. Tradisi pacu jawi sudah ada semenjak lama dan kita sebagai generasi muda harus dapat menjaga tradisi ini agar tidak di telan bumi.